Sabtu, 14 April 2012

Tanda Mata

Cerpen Chotibul Umam


Seorang pemuda dengan wajah tenang sedang duduk di atas kursi roda. Sudah sekian bulan dia terbaring seperti tak bernyawa. Entah penyakit apalagi yang tak jenuh menghinggap di tubuhnya. Daya tahan tubuh seakan tak lagi mau berpihak pada niatnya untuk menjalani hidup. Tapi di balik matanya yang bulat dia masih menyisahkan cita-cita yang selama ini tertunda. Seperti sedang merencanakan sesuatu yang barangkali dia sendiri tak tahu bagaimana akan bertindak.
Dari kejahuan tampak seorang gadis yang tiba-tiba mampu memecah ingatannya. Diputarlah roda yang membawa tubuh lemahnya untuk lebih dekat namun tetap menjaga jarak dengan gadis tersebut. Gadis berambut gelombang itu seakan tak sungkan untuk mengenakan pakaian layaknya seorang pria. Rambutnya yang tergerai ditutup dengan topi khas gaya Putu Wijaya, dan tas yang menungging di punggungnya seolah ingin menunjukkan bahwa dia menyimpan berbagai macam lensa yang dibutuhkan, di sisi lain baju rompi yang turut mempercantik penampilannya lebih memberi kesan bahwa dirinya memang  fotografer yang berpengalaman.
Sepucuk mawar di pagi itu mulai mekar. Harumnya mulai turut memperindah taman bunga di tepian kolam air mancur. Angin segar yang berhembus ringan semakin kian diburu oleh para pasien sebelum ikut membaur bersama polusi, ditemani sanak famili atau perawat pribadi, mereka berharap segala duka akan segera hilang.   
Pemuda itu sempat menyimpan pertanyaan dalam hati saat melihat gadis itu. “Apa yang diharapkannya dengan mengambil gambar di tempat seperti ini? Bukankah ada yang lebih indah dari sekedar mengabadikan orang-orang yang dirundung duka?” ujarnya dalam hati.
Matanya terlihat cekung dengan warna hitam yang membalut tepat di pelupuknya. Belum sempat keinginannya untuk menyapa tiba-tiba rasa nyeri di kepala menyerang. Diputarlah kursi roda yang membawa tubuh ringannya untuk segera kembali ke kamar. Kembali untuk mengurai beban kepala yang tak sebanding dengan cintanya.
“Bagaimana dengan hari ini Mas Adam? Apakah sudah lebih baik,” tanya suster pribadinya sembari mengantarkan sarapan pagi. 
Ia seperti terkejut ketika melihat suster muncul dari bilik pintu kamarnya. Hanya dengan senyum ringan pemuda berparas layu itu menjawabnya, selebihnya tak ada kata yang keluar.
“Sebelum dokter datang memeriksa, ada baiknya Mas Adam sarapan dulu mumpung lagi hangat buburnya.”
“Sus, masih berapa lama lagi saya tinggal di sini?” tanyanya
“Kata dokter tidak lama lagi. Hanya saja kondisi tubuh Mas Adam masih diragukan maka dari itu dokter menyarankan lebih baik tinggal di sini dulu,” jawabnya.
“Boleh saya bertanya Sus?” tanya pemuda beralis tebal itu.
“Boleh Mas…”
“Apa Suster pernah jatuh cinta?”
“Ya sering Mas, malahan hampir tiap hari,” jawabnya meledek.
“Apa yang biasanya orang berikan sebagai tanda cinta kepada orang yang dicintainya?”
“Ya macam-macam Mas. Dengan bunga boleh. Lukisan juga boleh atau puisi apalagi. Bisa juga dengan memberikan sesuatu yang menjadi kesukaannya. Oh…, ada yang sedang jatuh cinta ya,” guraunya.
“Mungkin Sus, tapi nggak tahu.”
“Nggak tahu atau nggak berani Mas,” seraya tersenyum.
“ Heheh…ya terimakasih Sus atas sarannya”
“Ya sama-sama Mas,” senyumnya ramah.
Kamar bernomor 13 ruang VIP adalah tempat dimana dia merebahkan segela penat. Tak ada satupun keluarganya yang berkunjung, sebab dia menutup diri dari keluarga maupun teman dekatnya. Dipilihnya rumah sakit sebagai tempat tinggalnya sementara adalah atas kemauannya sendiri. Dia sangat menyadari dengan kondisinya yang telah berbulan-bulan menahan rasa sakit di kepala.
Malam telah menjelang dan bulan yang terang  sinarnya perlahan jatuh menembus dinding-dinding sepinya malam. Bila saat-saat seperti ini para pasien tak lagi diperbolehkan keluar dari kamarnya. Karena udara malam dianggap  liar seperti tak kenal memilih untuk dijadikan korbanya. Di setiap barisan bangsal mata malaikat maut seolah mengintai para penghuninya. Meski itu sebuah resiko usaha dan doa harus tetap dilakukan.
Mula-mula kepalanya mulai nyeri dicarinya tempat obat. Dia menelusuri disekitar laci ,meja, sampai dibawah ranjang. Ketika tak sengaja dia menendang kotak sampah lalu jatuh berserakan dia melihat sebungkus obat. Diambilnya dengan tergesah-gesah lalu lekas diminumnya sesaat kemudian jatuh tertidur di atas lantai tanpa alas.
“Mas Adam,….!” teriaknya suster ketika membuka pintu
“Mas Adam bangun Mas” sembari meanggoyangkan tubuhnya.
Akhirnya dia terbangun dengan tergagap. Dengan wajah pucat pasi dia dipapah berdiri kemudian dibaringkan tubuhnya di atas ranjang.
“Bagaimana Mas Adam bisa tertidur di atas lantai” tanya suster penuh.
“Tidak  tahu Sus, setelah saya minum obat langsung terjatuh”
“Pasti terlalu capek.”
“Sekarang Mas Adam mandi dulu habis itu kita jalan-jalan keluar” lanjut suster.
Dia bergegas membersihkan tubuhnya. Berpakain rapi dengan sedikit berdandan. Hari ini tidak seperti biasanya dia terlihat tampan, berbeda betul dengan hari-hari sebelumnya. Rambutnya yang pendek dibiarkan sedikit acak-acakkan. Tak ketinggalan pula dia memakai wangi-wangian. Disemprotkan parfum bermerk ke tubuh kurusnya seperti ingin memberi aroma semangat dalam hidup.
“Wah  hari ini mas terlihat tampan,” puji suster.
“Memang Mas Adam punya janji hari ini, dengan seseorang mungkin,? ujarnya.
“Nggak ada Sus, cuma ingin tampil beda dari hari biasanya.”
“Baguslah Mas, saya senang mendengarnya,” katanya begitu riang seraya mendorang kursi roda.
Dari kejauhan terlihat lagi seorang gadis fotografer seperti tempo itu. Untuk kali ini dia sedang membidik objek. Sekali bidik sesekali itu pula dia langsung melihat bidikannya mengoreksi hasil dari gambar kameranya. Mungkin dirasa belum cukup puas hasil jepretannya lalu diarahkan lagi mata kamera ke objek tadi. Setelah sekian kali dia membidik, baru sebentar senyumnya mulai mengembang seperti merasa puas dengan hasil yang terakhir ini. Sejurus kemudian dia mengedarkan matanya dengan jeli berharap menemukan sesuatu yang menarik. Tiba-tiba kamera itu diarahkan kepada sosok pemuda yang duduk di kursi roda dengan seorang suster sedang mendorong dibelakangnya.
“Cekrek.”
Tersontak ketika dia tahu bahwa dirinya sedang dijadikan objek gambar seorang fotografer.
“Sus, dia itu fotografer?” tanya pemuda itu dengan menunjuk ke arah gadis yang sedang mengambil gambar.
“Ya Mas, hampir satu minggu dia di sini katanya mau mengadakan pameran fotografi di kota ini.”
Si gadis sepertinya menyapa pemuda yang berkursi roda itu dengan tersenyum manis. Gadis itu pun berjalan menuju ke arah pemuda yang ditemani seorang suster tersebut.
“Pagi Mas, kenalkan saya Ana” gadis cantik itu menyapa sembari memperkenalkan namanya    
“Pagi juga Mbak Anan, saya Adam” pemuda itu pun membalasnya.
“ Mbak Ana katanya ingin mengadakan pameran fotografi di kota ini?”  
“Ya Mas, rencananya bulan depan bareng teman-teman”
“Mas, saya tinggal dulu mau ke ruang dokter pribadi Mas Adam” sela suster di tengah percakapan mereka.
“Mbak Ana saya tak tinggal dulu ya?” lanjutnya.
“Oh ya silahkan Sus.”
“Kalau boleh tahu kenapa yang jadi objek rumah sakit Mbak?”
“Heem, karena saya ingin mengabadikan orang-orang yang tegar dan berani bertahan menghadapi hidup, dan saya kira orang-orang di luar sana harus bisa mengambil pelajaran dari orang-orang yang sakit. Mereka yang jelas-jelas dalam keadaan sakit masih mau mencuri kesempatan untuk membahagiakan orang-orang yang dicintainya” jawabnya dengan lugas.
Angin pagi itu menerpa tubuh sakitnya. Semacam duka atau suka meski itu semua silih berganti beranjak. Entah apa yang ada dalam pikiranya seperti ingin menyampaikan kata-kata tapi tak selugas apa yang biasa dia katakan.
“Begini Mbak, saya punya permintaan yang mungkin bisa dijadikan bahan untuk pameran nanti” pintanya dengan tatapan sedikit nanar.
“Apa itu Mas?”
“Tolong bidik mata saya, cuma mata saya,” tegasnya.
“Boleh juga Mas.”
“Cekrek,,cekrek,,cekrek” beberapa kali gadis bermata jelita itu mengambil gambar sesuai keinginannya.
“Terima kasih Mbak”
“Ehm punya kertas dan pensil Mbak”
“Ini Mas” disodorkannya kertas dan pensil.
Tidak lama dia menuliskan sesuatu di atas kertas. Lalu diberikannya lagi kepada gadis bernama Ana itu.
“Kalau memang gambar tadi bisa dijadikan sebagai bahan pameran. Saya minta judul dan sinopsis ceritanya sama persis dengan apa yang saya tulis tadi Mbak” pintanya.
“Siap Mas” jawabnya gadis berparas anggun itu.
Selang beberapa saat sang suster datang bersama dokter pribadinya. Mereka pun akhirnya berpamitan kepada  si gadis . Ditariknya pemuda tersebut dari tempat semula. Entah baru beberapa jam lewat. Tak lama kemudian sebuah kereta ranjang keluar dari kamar bernomor 13. Terlihat kain putih itu telah menutup seluruh tubuh yang nampak terbujur kaku berjalan di depan mata si gadis. Dia  terpaku melihat sosok yang telah tertidur panjang. Suara serak roda kereta ranjang itu seperti ingin mengabarkan bahwa usia hidupnya memang tak sepanjang usia cintanya.
Tepat ketika pameran fotografer itu dibuka. Di samping pintu masuk pameran terpajang foto berukuran paling besar. Siapa pun yang akan masuk ke ruang galeri itu pasti tak akan melewatkan foto bertuliskan tanda mata dengan sinopsis” ketika kata-kata tak lagi bisa menjadi peluru, bisakah tanda mata sebagai ungkapan cintaku padamu?” teruntuk Fhy Savitri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar